Who Is Tante Dukun?

Ada yang mengenal saya sebagai ibu rumah tangga biasa yang punya anak banyak (hehe…), ada yang mengenal saya sebagai orang gila… macam-macam. Jika Anda datang ke mari dari salah satu video di channel Youtube saya, Anda mungkin mengenal saya sebagai Dukun Palsu.

Kenapa namanya Dukun Palsu?

Sebetulnya nggak ada alasan khusus waktu menamai channel saya. Pas bikin channel, pas nongol istilah ‘dukun palsu‘ di kepala saya. Gitu aja sih prosesnya. Cumaaaan… Setelah saya gali lagi, ternyata nama itu bukan cuma pikiran lewat.

Berpuluh-puluh tahun yang lalu, saya sudah hobi reading. Tapi karena dulu nggak punya akses ke kartu tarot (nyari di mana jaman semono??), saya reading pake kartu remi. Nah… Pas lagi reading untuk sejumlah teman yang ngantri bergerombol, di sekolahan nih, jam istirahat… Seorang teman lain lewat sambil berseloroh, “Mau jadi dukun ya?”

Cita-cita saya waktu itu sih pengen jadi reporter TV, terinspirasi Desi Anwar. Tapi, sambil nyengir kuda saya jawab aja, “Iya, dukun palsu.”

Jadi nama Dukun Palsu sudah tersimpan di memori bawah sadar saya sejak jaman dahulu kala, jauh sebelum ada internet.

Selain ndukun, kegiatan Tante Dukun apa aja?

Standar… Main sama anak-anak saya, ngerjain suami, cuci pakaian, makan, tidur, nongkrong, nulis artikel, bikin minyak kemiri, karaoke a.k.a Smule-an, nonton video-video gokil di Youtube, dengerin musik di Joox… Intinya: nggak ada kegiatan seperti minum darah kucing, makan bayi, atau gali kuburan orang untuk ngambil bagian tubuh tertentu (baca: selangkangan). I live quite a normal life.

Bisa reading pake kartu dan astrologi dari mana?

Kalo dipikir pake akal, ini nggak masuk akal. Sebagian ilmunya sudah seperti tertanam dalam diri saya, sebagian saya dapat dari seorang guru berkepala botak yang sempat rutin datang dalam mimpi saya, sebagian saya dapat dari baca-baca buku dan sharing dari sesama dukun.

Dukun Palsu, light worker atau dark worker?

Terserah orang mau memasukkan saya ke dalam kotak yang mana. Saya pribadi nggak ikutan trend gitu-gitu. Light worker, dark worker, soul ascension, higher self, blablabla… Buat saya cuma istilah-istilah baru yang disematkan pada hal-hal yang sebetulnya sudah lama kita kenal dengan nama lain.

Ibaratnya ayam penyet, sekarang kita sebut ayam geprek — sama ayamnya, sambelnya juga mengandung cabe, ada irisan mentimun dan sepucuk kemangi juga. Bedanya cuma di euphoria-nya aja. Warung ayam geprek saat ini lebih rame dibanding warung ayam penyet. Masjid, gereja, wihara, klenteng, pura, lebih sepi dibanding channel yutub pengusung aliran new age. Meski yang diajarkan sebetulnya ya sama baiknya.

Saya percaya, apapun istilahnya, selama kita terus belajar, terus berkembang, terus berupaya melakukan yang terbaik (setidaknya untuk diri sendiri dan orang-orang yang kita cintai), itu sudah cukup. Soal apakah saya sudah mengalami kebangkitan jiwa, sudah selaras dengan Source, saya light atau dark worker, dsb, itu bukan hak saya untuk menilai. Biar Semesta yang menilai.

Visi & Misi Tante Dukun?

Bukan mau mengubah dunia, atau mengajak umat menuju suatu tempat lewat jalan tertentu. Saya hanya sedang menjalani peran saya di muka Bumi ini. Semua cita-cita terbesar saya sudah tercapai. Tinggal cita-cita kecil yang belum… Seperti: pengen punya Bugatti, punya kondominium di Jerman, pengen sekolah seni di Berkeley atau metafisika di Serbia… Hahaha…

Intinya, I have no specific agenda. Kalo Anda percaya saya bisa membantu mencapai hidup yang Anda cita-citakan, saya bantu lewat beberapa layanan berbayar yang bisa Anda temukan di website ini dan juga lewat video-video yang saya sediakan gratis di channel Dukun Palsu. Subscribe aja 😘