Story Time: Diomelin Karena Ramalan Meleset

Di Youtube, kiprah reading saya baru 1 tahun. Tapi in real life, sudah sejak jaman remaja, which is 25 taun yang lalu. Tapi cerita ini bukan dari 25 taun lalu, yang ini dari kisaran 17 taun kepungkur.

Waktu itu saya diajak seorang kawan untuk kemping bareng temen-temennya yang dari universitas lain. Saya nggak kenal sama satupun teman-temannya teman saya itu. Bahkan… Sebetulnya saya juga nggak begitu kenal sama temen saya ini. Tapi di masa itu saya lagi seneng-senengnya kemping. Siapapun yang ngajak kemping, hajar bleeeeeeeh!!

Secara hamba ini termasuk makhluk paling kondang di kampus (setelah ibu kantin, mas bakso, mang siomay, dan bapak jukir), ada aja yang ngajakin kemping.

Singkat cerita, di tempat kemping, waktu lagi asik menikmati api unggun sambil main gitar, saya dengar suara temen saya dari dalam tenda, “Itu lho, Karjo pinter ngeramal!”

(Karjo itu nama panggilan saya di kampus. Saya agak maskulin waktu itu, dan temen-temen cowok menganggap saya semukhrim dengan mereka. Di acara kemping ini pun, cuma saya yang cewek.)

Maka datanglah kawan saya, disusul kawannya, minta dibukain kartu. Dan saya selalu bawa kartu ke manapun saya pergi, meski cuma kartu remi… Karena pada jaman itu saya nggak punya akses ke kartu tarot.

Saya lupa waktu itu pertanyaannya apa, saya juga lupa jawabannya apa. Terus terang yah, begitu sesi reading usai, saya udah nggak ingat apa-apa terkait reading tersebut.

Kemping 2 malam, balik ke dalam pelukan kota yang panasnya bagai seribu neraka, Surabaya. Rutinitas kembali seperti biasa.

Kira-kira 2 bulan kemudian… Orang yang minta reading di tempat kemping itu datang ke kampus saya, marah-marah. Entah ngomel apa aja dia, yang saya pahami, dia marah karena ramalan saya meleset.

Meleset jauh.

Saya cuma bisa melongo, sambil mencoba mengingat-ingat, “Waktu itu reading apa ya? Saya ngomong apa ya?”

Setau saya, dalam setiap reading, saya selalu ingatkan siapapun yang minta reading untuk nggak terlalu percaya, “Karena saya bisa salah omong salah baca, salah trawang, kamu juga bisa salah tangkap omongan saya.”

Mungkin waktu itu saya lupa mengingatkan. Atau saya sudah ingatkan tapi dia nggak paham, nggak dengar, atau nggak mau tau. Bisa macam-macam kemungkinannya. Yang jelas, realitanya, saya diomelin. Dan ini memicu kehancuran hati saya.

Putus asa.

Saya nggak mau reading lagi.

Saya kapok.

Kapok diomelin.

Kejadian ini semacam menyadarkan saya bahwa nggak semua orang paham bahwa ramalan itu cuma ramalan. Bahwa apa yang terjadi nanti tergantung pribadi masing-masing — mau terjadi seperti yang diramalkan atau nggak?

Dalam meramal kita kan cuma melihat kemungkinan-kemungkinan. Nggak mungkin memberi kepastian karena dalam hidup ini nggak ada satu halpun yang pasti. Semua yang ada dan terjadi di dunia ini hanya ilusi. Eksistensi kita sendiri pun ilusi.

Anyway… Sejak kejadian itu, kartu saya pake main blackjack sama temen-temen, atau main solitaire kalo pas sendirian, dan akhirnya hilang entah ke mana. Saya juga nggak nyari.

Baru mulai reading lagi sekitar setengah tahun sebelum buka channel Dukun Palsu di Youtube. Gara-garanya waktu itu ada kejadian yang bikin saya bingung tingkat dewa dan logika saya nggak menyediakan jawaban.

Saya coba hitung secara astrologis. Tapi karena sayanya lagi nggak logis, bukannya dapat pencerahan, saya malah jadi cemas.

Tanya pada rumput di halaman, rumput cuma bergoyang. Tanya Semesta, Semesta cuma bilang, “Ini yang dulu kamu minta kan?”

Next time saya ceritakan lengkapnya. Kalo nggak lupa.

Wal akhir, gegara kejadian itu, saya kembali ke kartu. Dan dengan pola pikir baru, saya pun siap reading untuk bangsa. Ecieee… 😜

Tinggalkan Pesan