QA: Tante kok selalu ceria, rahasianya apa?

Selalu? Nggak selalu. Tetep ada yang namanya up and down.

Sebagai bayi, saya merupakan bayi ceria. Jadi ceria itu semacam watak. Tapi… begitu masuk usia sekolah, saya jadi anak yang selalu jadi sasaran olok-olok. Disisihkan. Dicelakai. Kemungkinan ya karena saya aneh aja…

Lebih parah lagi, di rumah pun saya selalu jadi anak yang diolok-olok. Maksud orang rumah sih bercanda, tapi karena di sekolah saya juga dibully, guyonan yang di rumah jadi nggak ada lucunya sama sekali. Dunia saya gelap waktu itu…

Jangankan tertawa, senyumpun jarang. Jarang bicara, karena kalo bicara pasti jadi bahan cemoohan. Saya juga nggak mau menunjukkan perasaan di depan orang lain, karena kalo orang melihat saya bereaksi, mereka makin heboh.

Apapun yang terjadi pada saya, saya simpan sendiri. Sampe jadi korban tabrak lari waktu bersepeda ke sekolah pun, saya nggak cerita siapa-siapa. Luka-luka, memar-memar, gosong-gosong di tubuh saya sembunyikan. Saya lanjut ke sekolah, meski jalan pincang dan mata berkunang-kunang. Pulang sekolah, saya juga nggak cerita orangtua, nggak cerita sodara. Literally, nggak cerita ke siapapun.

Dan karena bully di sekolah dan di rumah berlangsung selama bertahun-tahun, sikap seperti itu jadi kebiasaan.

Muka datar.
Diam.
Dingin.
Nggak pernah nangis.
Jarang marah.
Seakan nggak punya perasaan.
Ada orang sedih, saya nggak peduli.
Ada orang susah, bukan urusan saya.
Hari-hari berlalu cuma untuk mengejar prestasi karena cuma prestasi yang membuat saya merasa berharga.
Hidup terjadwal.
Nggak berkawan.
Tipikal Capricorn Sun.

Setelah sekitar 7 tahun menjalani hidup seperti robot, di tengah masa remaja saya dapat pengalaman hidup yang konon namanya pengalaman Twin Flame. Next time saya ceritakan. Intinya, pengalaman ini mendorong saya untuk mengevaluasi sikap hidup saya. Sejak itu saya mulai belajar mengekspresikan perasaan dan menggeser fokus dari prestasi akademis ke arah pencarian dan pemahaman arti hidup.

Twin Flame

😜

Butuh 7 tahun untuk bisa kembali jadi diri yang ceria seperti waktu masih bayi. Tapi begitu bisa kembali seceria bayi, hidup menghantam lagi. Kali ini kebanggaan pada kemampuan saya yang dihajar habis-habisan. Rasanya seperti sedang dibully Semesta.

Biasanya saya doa selalu terkabul. Biasanya saya berupaya selalu berhasil. Biasanya rencana saya selalu berjalan sesuai perkiraan. Tapi selama 14 taun, saya seperti hidup di dalam liang kubur, nggak bisa bergerak sedikitpun. Upaya, doa, puasa, marah, nangis, tersungkur, semua nggak ada gunanya. Bunuh diri pun nggak mati! Ada nggak orang minum racun, trus tertidur, dan bangun kebelet pipis, pipisnya bau racun yang diminum sebelum tertidur tadi? Saya nggak bangga soal ini, justru waktu itu saya merasa sedang ditertawakan Semesta. Rasanya seluruh dunia ngakak guling-guling menyaksikan saya.

Lalu apa yang mengeluarkan saya dari liang kubur kehidupan?

Menyerah. Melepaskan apapun yang saya andalkan dan banggakan. Semua yang ada di diri saya nyata-nyata nggak ada gunanya, buat apa dibanggakan terus?

Oke Semesta, saya pengen mati juga nggak boleh, berarti saya harus hidup. Kalopun harus hidup sebagai kutu, oke saya jalani. Terserah deh…

Saya nggak protes-protes lagi, nggak nuntut-nuntut lagi. Doa, puasa, nggak lagi. Nggak minta satu hal pun. Nggak merencanakan apapun. Buat apa? Wong sudah jelas semua itu nggak ada gunanya. Gimana-gimana tetep Semesta yang memutuskan. Ngapain saya repot-repot mikirin hidup saya, biar aja Semesta yang mikirin. Buat apa saya peras otak mengatur langkah untuk mencapai tujuan, wong kalo memang belum waktunya dapat, ya nggak bakal dapat.

Sejak itu keceriaan saya kembali lagi, kali ini secara instan. Sejak itu rasanya roda kereta kehidupan terasa berputar kembali. Cuman kali ini saya nggak pegang kendali, nggak pegang cambuk. Saya cuma penumpang. Semesta yang jadi kusirnya. Saya cuma minta diantar ke suatu tempat, terserah Semesta mau lewat mana. Entah nyampe entah nggak, saya juga nggak begitu peduli. Saya anggap aja saya ini lagi jalan-jalan.

Tinggalkan Pesan